Gedung Megah di Tengah Hutan

Written By Unknown on Senin, 23 Februari 2015 | 16.24

SETELAH menyusuri jalan setapak sekitar 500 meter, atap gedung yang megah pun terlihat. Namanya gedung Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional (RSBI). Letaknya di belakang permukiman penduduk Desa Ketapang Indah, Singkil Utara, Aceh Singkil.  

Butuh waktu sekitar 45 menit bagi wartawan Serambi 'merayap' untuk  mencapai gedung berstandar internasional ini, karena harus menyingkirkan rumput dan tanaman liar di sisi kiri-kanan jalan yang durinya tajam-tajam. Sedangkan kendaraan harus ditinggal jauh di perumahan warga. Kawanan burung langsung beterbangan menyambut  Serambi saat mendekati bangunan bikinan tahun 2009 itu pada Sabtu (21/2) pagi.

Dari jalan raya Singkil-Rimo, bangunan ini sejatinya tak jauh letaknya. Mungkin tak sampai satu kilometer. Namun, semak belukar diselingi onak duri menyesaki jalan setapak, sehingga perlu usaha ekstra untuk menerobos ke sana.

Di kompleks RSBI, pohon liar menjulang tampak menutup bangunan yang terdiri atas empat ruang belajar, kantor, mushala serta rumah dinas guru. Sebagian kaca jendela sudah pacah. Di antara bangunan di kompleks ini, rumah dinas gurulah yang sangat tertutup, karena ilalang dan pohon-pohon liar tumbuh setinggi bangunan itu sendiri.

Bertahun-tahun proyek yang bernilai sekira Rp 6 miliar ini dibiarkan mubazir. Entah apa sebabnya. Ironisnya, di sisi lain, ternyata masih ada sekolah di Aceh Singkil yang kekurangan ruang belajar.

Berdasarkan catatan Serambi, pada tahun 2014 saja, sedikitnya ada enam sekolah dasar (SD) yang harus berbagi ruang belajar. Satu ruangan disekat untuk dua rombongan belajar. Yang lebih ironis lagi, ada murid yang masih belajar di bawah pohon sawit, yakni murid Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Simpang Kanan. "Sudah hampir setahun ini siswa belajar di bawah pohon sawit. Kadang di ruang kepala sekolah dan guru, karena kekurangan kelas," kata Kepala MIS Simpang Kanan, Restu Saputra.

Bukan cuma ini. Ada beberapa proyek lain yang dibiarkan terbengkalai di Bumi Syekh Abdurrauf ini. Bangunan bernilai belasan miliar rupiah  yang belum termanfaatkan, antara lain, gedung Islamic Center di kawasan Lae Petal, Kecamatan Suro yang dibangun sejak tahun 2009. Proyek multiyears (bertahun jamak) ini merupakan mimpi Bupati Aceh Singkil yang pertama, Makmursyah Putra sebelum meninggal. Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berucap bahwa pusat kajian Islam ini  harus berfungsi sebelum dia mengakhiri masa tugas memimpin Bumi Sekata Sepekat ini. Sayang, harapannya belum kesampaian, bahkan  bertahun-tahun kemudian setelah ia meninggal pada 15 Oktober 2011.


Anda sedang membaca artikel tentang

Gedung Megah di Tengah Hutan

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2015/02/gedung-megah-di-tengah-hutan.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Gedung Megah di Tengah Hutan

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Gedung Megah di Tengah Hutan

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger