Ketika Para Pemburu Bendera Mendobrak Pintu Rumah Misriah

Written By Unknown on Minggu, 07 September 2014 | 16.25

JUMAT (5/9/2014) siang, tampaknya merupakan hari yang tak terlupakan bagi Misriah (45). Bagaimana tidak, ketika ia sedang asyik menjahit tiba-tiba belasan pria berambut gondrong mendobrak pintu dan langsung mengubek-ubek seisi rumahnya. Pria-pria gondrong itu adalah TNI para pemburu bendera GAM yang ditugaskan atasannya di Kodim Pekalongan untuk menyita bendera Bintang Bulan tersebut.

Wanita paruh baya itu awalnya dicurigai memproduksi dan menyimpan bendera Bintang Bulan yang di masa konflik dulu dikenal sebagai bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Kaget, pintu rumah tiba-tiba didobrak, padahal pintu tidak saya kunci. Saya kira mereka itu maling karena tidak berseragam dan rambutnya gondrong-gondrong. Takutnya rampok, soalnya di daerah sini banyak pencuri," kata Mistiah, Sabtu (6/9) kemarin tentang aparat TNI yang masuk ke rumahnya karena dicurigai menyimpan bendera GAM.

Setelah mendobrak pintu, belasan petugas itu pun langsung masuk dan merazia seisi rumah. "Langsung difoto-foto dan tanyanya bentak-bentak seperti menginterogasi. Baru beberapa saat kemudian ada tiga petugas TNI berseragam yang menjelaskannya bahwa itu bendera terlarang. Lalu saya jelaskan apa adanya bahwa saya hanya terima orderan dari Bu Herlina," ungkap Misriah saat ditemui Tribun Jateng--surat kabar satu grup dengan Serambi Indonesia--di rumahnya, Jalan Cendrawasih RT18/RW4, Kelurahan Bener, Kecamatan Wiradesa, Pekalongan.

Misriah mengaku tak tahu bahwa bendera yang dijahitnya itu adalah bendera gerakan terlarang. Wanita berkerudung itu mengira bendera itu hanyalah bendera parpol biasa.

Awalnya dia dimintai oleh tetangga dekatnya bernama Herlina, untuk menjahit pinggir sejumlah bendera yang sudah disablon. Karena sudah akrab, dia tak kuasa menolak.

Herlina merupakan kakak ipar dari Haji Imam Kamaludin, penyablon bendera GAM yang diamankan Kodim 0710 Jumat (5/9) siang lalu. Istri dari Nasta'in itu mengaku mendapat order memasang tali dan menjahit pinggiran (mlebet) bendera itu pada hari Kamis (4/9) pagi. Kamis itu, dia baru selesai mengerjakan sepuluh bendera.

"Kamis siang mintanya sudah harus selesai. Tapi saya buat santai, jadi malam baru saya kembalikan ke Bu Herlina. Kemudian saya diminta menjahit pinggiran (merapikan) lagi sekitar 20 bendera, Jumat siang disuruh mengembalikan bendera itu. Rencananya dibayar Rp 2.500-3.000 setiap kodinya," kata Misriah.

Namun, lanjut dia, Jumat siang dirinya didatangi sejumlah anggota TNI yang kemudian mengamankan 20 bendera yang masih ada di rumahnya. Dia mengaku sangat kaget dengan aksi sejumlah anggota TNI tersebut. "Awalnya Herlina minta sampel bendera itu dua buah. Katanya, ada orang yang mau pesan banyak. Terus sepuluh menit kemudian belasan pria yang ternyata tentara datang ke rumah saya bersama Bu Herlina," tuturnya.

Sementara itu, rumah Imam Kamaludin di RT18/RW4, 461, Kelurahan Bener, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, terlihat sepi. Tribun Jateng hanya bertemu Ida yang mengaku kerabatnya dari Surabaya. "Kurang tahu, saya juga masih nyari. Ini saya baru tiba dari Surabaya. Pas mampir di sini kok sepi," ujarnya.

Hal yang sama juga ditemui di rumah Herlina, kakak ipar Imam. Rumah Herlina tertutup rapat dan sepi penghuni. Tetangga sebelah rumahnya mengatakan Herlina sedang pergi. "Perginya nggak tahu ke mana. Soalnya, kalau di rumah biasanya pintunya terbuka," kata wanita bernama Sripah itu dari kejauhan.

Terpisah, Kapolres Pekalongan, AKBP Fajar Budiyanto, mengatakan, Imam Kamaludin sudah dipulangkan. Imam hanya diminta membuat surat pernyataan untuk tidak membuat lagi bendera serupa. Berdasarkan proses pemeriksaan Imam terbukti tidak ada unsur penghinaan terhadap NKRI. "Dia sudah membuat surat pernyataan dan kami berikan pembinaan," katanya.

Pihaknya mengaku juga sudah memeriksa dua penjahit yang diberi order oleh Iman, yakni Herlina dan Misriah. Imam sendiri merupakan pengusaha sablon. "Hasil pemeriksaan sementara, Pak Imam cuma menerima orderan saja, dia tidak tahu kalau pembuatan bendera seperti itu tidak boleh. Sepengetahuan Pak Imam itu bendera parpol biasa," terangnya.

Namun, hingga kini pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut. Pihaknya juga masih memburu orang yang memberi order kepada Imam Kamaludin untuk menjahit bendera yang masih "kontroversial" itu. "Terkait lain-lainnya, masih dalam pengembangan," ujarnya. (tribunnews/wan)

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |


Anda sedang membaca artikel tentang

Ketika Para Pemburu Bendera Mendobrak Pintu Rumah Misriah

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2014/09/ketika-para-pemburu-bendera-mendobrak.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Ketika Para Pemburu Bendera Mendobrak Pintu Rumah Misriah

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Ketika Para Pemburu Bendera Mendobrak Pintu Rumah Misriah

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger