Situs Perang Jadi Andalan Wisata Vietnam

Written By Unknown on Sabtu, 14 Juni 2014 | 16.25

MOHD ANDALAS, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, penikmat wisata, melaporkan dari Hanoi

PADA minggu terakhir berada di Ho Chi Minh, Vietnam, untuk belajar operasi laparoskopi selama sebulan, saya bersama tiga sejawat lainnya dari Indonesia berkunjung ke beberapa tempat wisata, terutama di Ho Chi Minh City dan Hanoi, Vietnam.

Vietnam tidak sama dengan Indonesia, negeri yang kaya akan sumber daya alam dan panorama alam. Tapi meskipun Vietnam miskin sumber daya alam, mereka tetap eksis di bidang pariwisata dan pertanian. Kedua sektor ini bahkan menjadi andalan pendapatan negaranya. Tiap tahun sekitar tujuh juta turis mendatangi Vietnam. Sebagian besar masuk melalui Hanoi dan Ho Chi Minh City. Setelah itu baru mereka menuju lokasi wisata lainnya, seperti Danang dan Natrang City.

Dilihat dari data statistik, tahun 2013 turis yang terbanyak datang ke negara yang berperang lama dengan Amerika Serikat ini berasal dari Cina, Taiwan, Korea, Jepang, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Eropa.

Menjadi pertanyaan bagi saya kenapa mereka begitu cepat bisa menjual pariwisatanya, padahal mereka lebih lama berkutat dalam masa penjajahan dibanding Indonesia? Begitu juga saat melihat keramahan masyarakatnya, masih jauh kurang dibandingkan dengan tetangganya, Thailand, Kamboja, dan Indonesia.

Apa rahasia di balik semua itu? Ternyata, dalam marketing pariwisatanya mereka lakukan lebih terintegrasi dengan menjual pesona alam plus berbagai kisah perang masa lalu yang difilmkan. Ini menjadi salah satu nilai tambah tersendiri. Tiap kali Hollywood memproduksi film Rambo atau film lain ber-setting Hanoi, itu merupakan promosi gratis bagi sektor pariwisata Vietnam.

Apalagi di Vietnam terdapat museum yang masih menyimpan bukti pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat (AS) yang digunakan saat perang. Namanya, Museum Perang Remnants. Kisah perlawanan masyarakat Vietnam melawan penjajahan, termasuk perlawanan masyarakat AS yang menentang Perang Vietnam, dan beberapa dokumen sejarah lainnya, terdokumentasi bagus di museum yang diresmikan pada 4 September 1975 ini. Keberadaan museum ini sebagai simbol perdamaian dunia sekaligus bukti sejarah bagi rakyat Vietnam tentang betapa gigihnya para pendahulu mereka mempertahankan kedaulatan negaranya.

Museum ini setiap bulan dikunjungi oleh sedikitnya 500.000 pengunjung, baik domestik maupun mancanegara. Pesan moral dari museum ini sama sebangun dengan tujuan dibangunnya Museum Hiroshima di Jepang, tapi ukuran museum di Vietnam ini lebih kecil.

Selain itu patut pula diacungi jempol tentang semangat mereka dalam menjual pariwisata secara terpadu, mulai dari pihak agen program wisata, pemandu wisata, dan masyarakat di tempat tujuan wisatanya. Kesepahaman tim mereka dalam mewujudkan misi pariwisata di berbagai lini menjadi titik kunci keberhasilan.

Pariwisata Vietnam, hari demi hari, semakin meningkat tajam. Sebagai contoh, wisata sungai di Delta Mekong yang dulu lebih banyak kita tahu dari film-film Rambo. Objek ini berada di luar Kota Ho Chi Minh. Dapat dicapai dengan naik bus sekitar 90 menit dari Ho Chi Minh. Setiba di Pelabuhan Mekong awak boat bermesin langsung membawa kami dan turis lainnya mengunjungi beberapa kebun masyarakat. Setelah saya amati kebun itu mirip kebun masyarakat kita di Jantho, Samahani, atau  kebun rambutan di Indrapuri, Aceh Besar. Tapi di Delta Mekong ini berkembang pesat wisata agraris yang didukung oleh home industry. Seusai berkunjung dari tempat ini, pelancong bergerak lagi ke tempat lain menggunakan sampan kayuh yang dikemudikan wanita Vietnam.

Yang ingin saya utarakan di sini adalah di bidang wisata agraris (ekowisata) pemerintahnya melibatkan rakyat. Warga desa melayani dan memanfaatkan kunjungan tamu dari mancanegara sehingga sangat berdampak pada perekonomian mereka.

 Pasar terapung
Ada lagi satu    objek wisata menarik di negeri ini, yakni Halong. Terdiri atas pegunungan, pantai, dan gua. Kawasan ini menjadi daya tarik utama bagi turis datang ke Hanoi. Diperkirakan, terdapat 2.000 gunung di Halong Bay. Objek ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1994 dan dicatat oleh Unesco sebagai salah satu keajaiban dunia. Di Halong masih kami jumpai kampung masyarakat terapung. Pasar terapung tempat mereka bertransaksi menjadi objek menarik bagi wisatawan.

Pendeknya, banyak hal menarik yang saya peroleh selama perjalanan di Vietnam ini. Tapi yang terpenting adalah sektor wisata Vietnam mereka kaitkan dengan situs perang dengan satu pesan moral agar jangan ada perang lagi di belahan dunia mana pun dan perdamaian harus terus-menerus dijaga. Hal ini pun seharusnya menginspirasi kita di Aceh yang belum lama menikmati perdamaian. [email penulis: andalas_m@yahoo.com]

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com


Anda sedang membaca artikel tentang

Situs Perang Jadi Andalan Wisata Vietnam

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2014/06/situs-perang-jadi-andalan-wisata-vietnam.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Situs Perang Jadi Andalan Wisata Vietnam

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Situs Perang Jadi Andalan Wisata Vietnam

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger