Perpustakaan, Rumah Kedua bagi Para Penuntut Ilmu

Written By Unknown on Senin, 22 Desember 2014 | 16.24

OLEH MUHAMMAD IKHWAN, alumnus UIN Ar-Raniry, sedang kuliah program magister di Universiti Malaya, melaporkan dari Kuala Lumpur

MENDENGAR kata perpustakaan, dalam pikiran kita langsung terbayang sederetan buku yang tersusun rapi dalam rak sebuah ruangan. Namun, perpustakan pada zaman sekarang bukan hanya sekadar buku, tapi juga mengandung unsur-unsur lain yang membuat kita betah berlama-lama berada di dalamnya.

Hal inilah yang kami alami hampir sepanjang semester, saat perpustakaan menjadi rumah kedua bagi kami, para penuntut ilmu di negeri orang. Perpustakaan tak hanya menyuguhkan banyak sumber referensi, tetapi juga bisa dikatakan sebagai rumah kedua bagi para mahasiswa yang dibebani dengan tugas kuliah yang menumpuk.

Perpustakaan kampus kami, Universiti Malaya, terdiri atas sebuah perpustakaan utama, tiga perpustakaan cabang, dan tujuh perpustakaan khusus. Perpustakaan utama atau Center Library terletak di tengah-tengah Kampus UM, sedangkan perpustakaan cabang seperti Perpustakaan Undang-Undang dan Perpustakaan Peringatan Za'ba letaknya tak jauh dari lokasi Perpustakaan Utama UM. Sementara itu, perpustakan khusus terdiri atas Perpustakaan Alam Bina, Bahasa, dan Linguistik, Jurutera, Pengajian Islam, Pengajian Melayu, dan Perpustakaan Kedokteran Gigi yang terletak di fakultas masing-masing. Namun, bukan jumlah perpustakaan yang banyak itu yang membuat pengunjung, baik mahasiswa ataupun tamu, tertarik datang ke perpustakaan, tapi kelengkapan isinyalah yang membuat kami betah berlama-lama di dalamnya, layaknya seperti rumah sendiri.

Perpustakan Utama UM terdiri atas empat tingkat, dibangun tahun 1959. Koleksinya kini lebih dari sejuta judul bacaan. Terdiri atas buku, jurnal, tesis, disertasi, dan sumber rujukan lainnya.

Pihak perpustakaan membolehkan pelajar Pascasarjana UM untuk meminjam buku sampai 20 buah dan batas peminjamannya satu bulan. Akan sangat bermanfaat tentunya karena dengan jumlah yang sangat banyak itu kita bisa meminjam buku rujukan yang kita perlukan sesuai dengan kesanggupan kita membawa pulang. Tapi kenyataannya membawa pulang sepuluh buku saja kita sering tak sanggup.

Sistem Perpustakaan Utama UM membuat kita tak mengeluh dengan alasan batas peminjaman terlalu singkat atau jumlah bukunya terlalu sedikit. Alasan itu tak relevan di sini. Untuk peminjaman buku, kita tak perlu lagi ke bagian peminjaman. Cukup meminjamnya melalui alat dengan cara memasukkan nomor kartu anggota pustaka. Pustaka Utama UM ini dibuka pukul 08.00 sampai 22.30 malam. Khusus hari Sabtu dan Minggu hanya dibuka dari pukul 09.00 hingga 16.00 sore.

Jika kita ingin mengembalikan buku pinjaman bukan pada jam kantor (jam dibuka pustaka), maka kita tak perlu khawatir. Soalnya, kita bisa datang ke depan perpustakaan dengan hanya memasukkan buku tersebut ke dalam sebuah mesin khusus untuk pengembalian buku yang disebut dengan "kotak pemulangan buku" yang dibuka 24 jam.

Selain itu, denda terhadap keterlambatan pengembalian buku tidak memberatkan mahasiswa. Perpustakaan hanya mewajibkan membayar denda 10 sen (Rp 350) per harinya, tarif yang tak terlalu mahal.

Perpustakaan ini juga menawarkan beberapa keunggulan, seperti: memberikan software gratis untuk mahasiswa pascasarjana, yaitu sofware Turnitin. Software ini merupakan perangkat lunak untuk mendeteksi plagiasi dalam tulisan tugas kuliah atau tesis. Jika kita ingin menyerahkan tugas kuliah, maka akan dicek apakah tulisan tersebut mengandung plagiat atau tidak. Software tersebut akan menyebutkan dengan pasti berapa persentase plagiat dalam karya dimaksud.

Perpustakaan ini juga menyediakan web khusus untuk mengecek judul buku yang kita inginkan. Judul bahan bacaan yang berjumlah satu juta lebih tersebut bisa kita cek pada situs yang tersedia. Di tengah jumlah referensi yang sangat banyak itu tak mungkin kita cari secara manual.

Keunggulan lainnnya yang tidak kalah menarik ialah akses Wifi di dalam perpustakaan. Akses yang gratis dan supercepat membuat kita betah berlama-lama di dalam pustaka. Selain Wifi gratis dan kencang, komputer juga disediakan dalam jumlah banyak. Siapa saja yang ingin menggunakan komputer, boleh menggunakannya secara gratis.

Pepustakaan ini sangat menekankan kenyamanan bagi para pengunjung. Seluruh yang hadir diharapkan dapat menjaga diri agar tidak berisik, apalagi membuat gaduh. Kalau ingin berbincang, pihak perpustakaan pun menyediakan ruang khusus untuk berbincang atau ruang rapat. Mahasiswa yang ingin diskusi disarankan untuk memesan ruang khusus untuk diskusi yang dapat digunakan dua jam. Tapi syaratnya harus dipesan lebih dulu di bagian service centre.

Lebih menariknya lagi, bagi mahasiswa asal Aceh yang hobi mengopi, perpustakaan ini juga menyediakan ruang kantin khusus yang alatnya serbacanggih. Kita cukup memasukkan uang ringgit saja, maka tak lama kemudian kopi panas pun terhidangkan melalui mesin tersebut.

Dengan melihat kepada sistem perpustakaan di negara jiran, maka kita mengharapkan dapat dicontoh dan diaplikasikan dalam perpustakaan-perpustakaan kampus di Aceh khususnya, sehingga bertambah lagi para ilmuwan dari berbagai bidang keilmuan di Aceh.
[email penulis: ikhwanmauluddin@gmail.com]

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |


Anda sedang membaca artikel tentang

Perpustakaan, Rumah Kedua bagi Para Penuntut Ilmu

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2014/12/perpustakaan-rumah-kedua-bagi-para.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Perpustakaan, Rumah Kedua bagi Para Penuntut Ilmu

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Perpustakaan, Rumah Kedua bagi Para Penuntut Ilmu

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger