Jilbab Putri Aceh Menjadi Perhatian

Written By Unknown on Minggu, 10 November 2013 | 16.24

KHITHTHATI, penerima beasiswa belajar bahasa Korea di Geumgang University, melaporkan dari Korea Selatan

BAGAIMANA rasanya bila tiap kali berjalan kita diperhatikan? Merasa terkenal atau bagaimana? Saya merasakan sendiri keadaan ini sekarang saat berada di Geumgang, Korea Selatan (Korsel).

Tapi tunggu dulu. Yang memperhatikan saya adalah para orang tua ataupun anak-anak. Lalu apa yang membuat mereka tertarik? Jawabanya adalah jilbab. Ya, itu yang membuat mereka melihat dan terkadang bertanya langsung kepada saya.

Memakai jilbab memang hal yang biasa di Aceh. Bahkan ketika pertama kali menginjakan kaki di Negeri Ginseng ini saya masih berpikir mengenakn jilbaab adalah hal yang biasa. Soalnya, banyak perempuan terlihat memakainya di bandara dan hampir semuanya adalah pendatang.

Namun, begitu saya sampai di kampus, semuanya berubah. Banyak yang menanyakan tentang hijab ini. Pertama, karena kampus saya terletak di desa yang hampir semua penduduknya adalah orang tua, kecuali mahasiswa tentunya. Bisa dimaklumi kenapa di desa itu penduduknya mayoritas orang tua, karena pasangan muda Korsel mulai enggan mempunyai keturunan.

Kedua, saya menjadi pusat perhatian, karena hanya saya sendiri pelajar asing yang memakai jilbab di kampus, meski ada lima mahasiswi muslim di kampus kami.

Saya kuliah di Geumgang University. Letak kampus ini di Chungcheongnam-do, Nonsan, tepatnya di kaki Gunung Gyeryong. Ini salah satu tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Korsel.

Berjilbab di Seoul, ibu kota Korea, mungkin hal yang biasa, namun Nonsan adalah kota kecil yang bahkan banyak penduduknya tidak memeluk agama dan tidak mengenal Islam.

Saat saya berkeliling dan jalan-jalan selalu ada saja yang heran dan terkadang bertanya saya berasal dari mana? Apa yang saya kenakan? Kenapa saya berpakaian seperti ini? Dengan pengetahuan yang kurang akan bahasa Korea terkadang saya menjawab singkat dan tersenyum daripada dianggap tak sopan. Soalnya, di Korea berbicara dengan orang tua harus memakai bahasa yang formal. Berbeda ketika kita bicara dengan teman sebaya.

Sering pula saya dikejutkan oleh keheranan mereka. Pernah suatu hari saya sedang menunggu bus, tiba-tiba seorang ibu datang dan langsung memegang kepala saya. Tentu saja saya terkejut. Tapi ibu itu mulai melontarkan banyak pertanyaan. Di lain waktu ada ibu datang dan bertanya nama, agama saya, dan bagaimana saya berdoa? Juga siapa Tuhan saya. Tentu sulit untuk dijelaskan. Terkadang mereka bertanya apa saya tidak punya rambut? Apakah saya bisa menikah dan banyak pertanyaan lain yang terkadang lucu.

Tidak hanya orang tua, tetapi anak-anak juga tertarik. Mereka sering kali berhenti di sekeliling saya dan menatap lama. Sampai-sampai ada seorang ibu yang mengajak anaknya bersalaman dengan saya. Di lain hari ada dua gadis kecil yang bemain-main dengan neneknya lalu dan sesekali menoleh. Karena hal ini terjadi sampai beberapa lama, sang nenek pun menawarkan saya ikut makan kue bersama. Banyak yang menarik memang, namun tidak selamanya menyenangkan. Kadangkala ada yang memandang dengan penuh selidik, melihat saya dengan sinis. Namun, harus tetap dibalas dengan senyuman.

Teman-teman sekelas awalnya juga menanyakan kenapa saya memakai penutup kepala dan banyak pertanyaan yang lain. Beberapa di antara mereka tak begitu mengenal Islam dan bagaimana muslim beribadah, apa yang muslim bisa makan, apa pula yang tidak. Terkadang ada yang mengatakan, tidak apa-apa jika saya tidak menutup kepala selama di Korsel, karena tidak ada orang Aceh yang tahu kalau di kampus saya tak berjilbab. Nanti kalau pulang kampung barulah pakai jilbab lagi. Lucu juga pemikiran mereka.

Namun, ada juga yang sengaja datang ke kamar untuk melihat bagaimana caranya muslim menyembah Tuhannya (shalat).

Akhir-akhir ini mereka banyak bertanya, seperti Adriana, mahasiswi dari Polandia. "Di negara saya sesekali juga saya lihat perempuan menutup kepala seperti kamu, namun saya tak berani bertanya dan menegur karena mereka agak tertutup dan warna hijabnya selalu gelap. Awalnya saya mengira hanya itu warnanya, tidak boleh memakai warna lain. Namun, melihat warna hijabmu sepertinya lebih menarik."

Saya memang membawa beraneka warna jilbab walaupun tak bisa memakai dengan bermacam model. Namun, karena selalu memadu-padankan dengan warna pakaian, itu membuat teman-teman yang lain tertarik. "Sepertinya aku akan memakai seperti kamu di musim dingin dengan bermacam macam warna," ujar Ameli, mahasiswi asal Kanada.

Senang rasanya banyak yang bertanya dan tertarik dengan jilbab saya, sekaligus dapat memberikan pandangan tentang Islam. Terkadang ingin sekali mengutip kata-kata dalam film My Name is Khan, "Jilbabku bukan hanya simbol dari agamaku, tapi jilbabku adalah tanda keberadaanku." [email penulis: red_five_italy@yahoo.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com


Anda sedang membaca artikel tentang

Jilbab Putri Aceh Menjadi Perhatian

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2013/11/jilbab-putri-aceh-menjadi-perhatian.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Jilbab Putri Aceh Menjadi Perhatian

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Jilbab Putri Aceh Menjadi Perhatian

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger