Menyusuri Jejak Leluhur di Negeri Belanda

Written By Unknown on Sabtu, 21 September 2013 | 16.25

REZA KAMILIN, Kepala Tata Usaha Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, melaporkan dari Amsterdam

GB Hooijer, perwira menengah Belanda yang pernah bertugas di Aceh menulis dalam ikhtisar umum bukunya De Krijgsgeschiedenis van Nederlansch Indiƫ van 1811 tot 1894 sebagai berikut: Tak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh, yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya.

Oleh sebab itu, perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.

Begitu memasuki Gerbang Museum Bronbeek di Arnhem, kata-kata GB Hooijer itu semakin bergelora di dada. Saya dan istri secara khusus datang ke Arnhem untuk menyusuri sejarah dan bukti kegigihan dan keberanian para endatu (nenek moyang/leluhur) kita yang konon banyak tersimpan di sana. Museum Bronbeek merupakan museum militer Belanda yang didirikan tahun 1863 oleh Raja Williem III. Saat ini ada sekitar 45 veteran KNIL yang tinggal di kompleks itu. Mereka rata-rata berumur di atas 90 dan umumnya fasih berbahasa Indonesia.  

Museum ini berada di Arnhem, kota yang berjarak sekitar 100 km dari Amsterdam. Dengan sistem transportasi Negeri Belanda yang sangat luar biasa, kota ini dapat kita capai dalam waktu sekitar satu jam perjalanan kereta dari Stasiun Amsterdam Centraal.

Melewati gerbang museum, kita langsung disambut tiga buah meriam kuno, patung tentara KNIL, dan monumen nama-nama tentara Belanda yang tewas selama perang di Hindia Belanda. Memori mengenai kegigihan dan keberanian para leluhur mulai terasa sejak memasuki pintu utama museum. Sebuah meriam besar berukiran indah, lebih besar dari tiang listrik, panjang sekitar 5 meter, terbujur kaku di sana menyambut setiap para tamu yang datang.

Sebagai museum militer, peraturan di sini sangat ketat. Awalnya kami tidak diperbolehkan membawa masuk kamera. Setelah bernegosiasi, kami diperbolehkan membawa masuk kamera dan hanya diperbolehkan mengambil maksimal empat jepretan gambar.

Setelah memperkenalkan diri dari Aceh, akhirnya kami ditemani seorang pemandu bernama Paul. Ia menceritakan kepada kami sejarah berharga dari awal tahun 1873, era perang Aceh sampai tahun 1963 di mana semua proses peralihan kekuasaan Belanda di Indonesia berakhir. Koleksi museum terdiri atas benda pajangan dan media audio visual yang tertata apik sesuai dengan alur desain museum.

Memasuki bagian demi bagian museum, bagaikan kembali bersilaturahmi dan bernostalgia dengan para endatu. Meriam-meriam yang berjejer tersebut, semua milik para pejuang Aceh, baik itu meriam bantuan Turki ataupun meriam bantuan Inggris kepada Kerajaan Aceh. Meriam-meriam itu menggambarkan betapa dahsyatnya perang kala itu. Ada meriam yang panjangnya hampir 7 meter, bahkan ada meriam milik pejuang Aceh yang diameter moncongnya mencapai 80 cm. Pelurunya berbentuk batu bulat yang sangat besar. Menurut petugas museum, ini merupakan jenis meriam penghancur bangunan.

Di sisi lain museum terdapat ratusan koleksi senjata tajam yang digunakan para pejuang Aceh. Senjata tersebut berupa pedang, rencong, parang, busur, dan tombak. Di beberapa gagang pedang dan parang, terdapat goresan tangan para pejuang Aceh menggunakan bahasa Jawoe. Isinya, antara lain, menyatakan bahwa perang ini (perang Aceh) adalah perang melawan kafir dan perang mencari syahid surga tertinggi. Di antara koleksinya juga terdapat pedang dan rencong yang pernah digunakan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Beberapa naskah milik Kerajaan Aceh yang berbahasa Arab Melayu juga tersimpan rapi di sini. Kami juga dapat membaca maklumat Raja Aceh kala itu dalam menunggu kedatangan kapal-kapal VOC Belanda. Walaupun misi VOC pertama kali berdagang, tapi setengah dari rombongan itu merupakan tentara terlatih Belanda yang menyamar.

Di museum ini juga terdapat koleksi baju perang, kelambu, tempat tidur, dan dokumen-dokumen Belanda pada masa perang di Hindia Belanda. Di dokumen itu juga mencantumkan betapa besarnya biaya yang dikeluarkan Kerajaan Belanda untuk Perang Aceh. Aceh adalah daerah terakhir yang diinvansi, terlama, dan tersulit. Dalam penjelasannya, Paul beberapa kali meminta maaf kepada kami dan berharap kami tidak marah kepada dia ketika dia akan menjelaskan beberapa foto kekejaman tentara KNIL terhadap rakyat Aceh. [email penulis:

reza.kamilin@gmail.com

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com


Anda sedang membaca artikel tentang

Menyusuri Jejak Leluhur di Negeri Belanda

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2013/09/menyusuri-jejak-leluhur-di-negeri.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Menyusuri Jejak Leluhur di Negeri Belanda

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Menyusuri Jejak Leluhur di Negeri Belanda

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger