Teraturnya Kehidupan Orang Jepang

Written By Unknown on Minggu, 12 Januari 2014 | 16.24

                                       
ALKHANSA MUNAWARAH, mahasiswi TEN UIN Ar-Raniry, peserta Program Asian Youth Summit di Jepang, melaporkan dari Kyoto

ALHAMDULILLAH, saya berada di Jepang 21 hari mengikuti Program Asian Youth Summit yang digagas JAFF, sebuah lembaga nonprofit. Program ini berlangsung seminggu di Nara, sebuah kota di Jepang. Selebihnya saya gunakan waktu untuk menikmati suasana Jepang.

Ke banyak tujuan saya berjalan kaki bersama Sarah Jumalia, guru bahasa Jepang di Kougetsu School, sekolah nonpemerintah yang fokus pada pembelajaran bahasa Jepang dan bahasa Inggris secara gratis. Kami juga ditemani Wina, kakaknya Sensei Sarah yang sudah lama tinggal di Jepang. Beliau banyak sekali tahu budaya dan tempat-tempat menarik di Jepang.

Kami juga berkunjung ke Kyoto. Kota ini terkenal sekali dengan kuil-kuil yang indah. Awalnya kami berjalan kaki selama 15 menit dari rumah Sensei Wina di Kyoto. Ternyata berjalan kaki lebih banyak dilakukan orang Jepang baik tua maupun muda. Terlebih lagi biaya parkir di sini sangat mahal. Hal itu sungguh sangat berbeda dengan kehidupan masyarakat Aceh. Bila kita melihat, hampir semua orang kita menggunakan kendaraan yang tentu saja sepanjang jalan macet. Namun, para pejalan kaki di Jepang seperti sudah sangat menikmatinya. Terasa ringan dan tak menjadi beban sama sekali.

Mereka berjalan dengan langkah cepat. Saya sendiri merasa kewalahan ketika mencoba berjalan bersamaan dengan orang Jepang. Bahkan saya seperti berlari mengejar mereka. Budaya berjalan kaki pada dasarnya sangat menyehatkan, membuat kekuatan kaki senantiasa terlatih dan terhindar dari rasa malas. Ketika badan berkeringat, tubuh akan menjadi sehat. Di sisi lain, berjalan kaki dapat mengurangi kemacetan, hemat biaya transportasi, mencegah polusi,  dan menyehatkan badan.  

Saya sempat terpikir, kapan kebiasaan ini dapat diwujudkan di Aceh kita tercinta? Selama 21 hari berada di Jepang, sungguh banyak saya temui budaya hidup teratur di sana. Waktu sangat berharga bagi orang Jepang. Suatu ketika kami melakukan perjalanan dari Kyoto ke Osaka. Perjalanannya lumayan jauh, karena antarkota, jadi kami mengambil alternatif dengan menumpangi bus. Ketika itu saya perhatikan sebuah kertas yang tertempel di tiang halte itu, ternyata itu adalah jadwal bus yang telah diatur sedemikian rupa. Tertulis bus yang sedang kami tunggu itu akan tiba tepat pukul 12.13. Sempat terlintas di benak saya, mungkin saja angkutan itu akan tiba pukul 12.15 atau beberapa menit lebih telat dari itu, karena namanya saja kendaraan umum, pasti akan telat karena menunggu penumpang atau lain sebagainya. Ternyata, bus itu benar-benar tiba tepat pada jam yang telah tertulis di jadwal. Sungguh, selama saya mengenal angkutan umum di Aceh tak ada yang jam ketibaannya tepat waktu seperti di Jepang.

Begitu juga dengan soal kebersihan, setiap kali saya lakukan perjalanan di setiap kota di Jepang, seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Nara, Hiroshima, dan Wakayama, tak sekalipun saya dapati sampah yang dibuang sembarangan. Bahkan seluruh sudut kota terlihat begitu bersih. Memang orang Islam yang selalu mendengar dan menghafal hadis "annadhafatu minal iman (kebersihan itu sebagian dari iman)", tapi yang konsisten mempraktikannya justru bukan kita yang muslim.

Orang-orang di Negeri Matahari Terbit ini juga memilah-milah sampah menurut jenisnya, baik itu sampah sisa makanan, botol, kaleng, dan kertas di tempat yang berbeda. Mereka melakukannya dengan sukarela. Jadi, seluruh tempat menjadi bersih, bahkan sepuntung rokok pun tidak tercecer di sembarang tempat karena telah disediakan ruangan atau tempat khusus bagi mereka yang ingin merokok.

Saya juga ingin ceritakan pengalaman saya hidup bersama orang Jepang. Kebanyakan orang berpendapat bahwa orang Aceh itu sangat sopan dan ramah. Namun, orang Jepang jauh lebih sopan dan ramah. Mereka sangat menghargai tamu dan memperlakukannya dengan baik. Selama 12 hari saya homestay di rumah orang tua angkat saya, mereka perlakukan saya layaknya keluarga sendiri. Bahkan saya merasa seperti tinggal dengan orang tua kandung. Saya tidak dianggap asing dalam keluarga ini walau baru saling kenal. Saya pribadi tidak dapat berbahasa Jepang karena yang saya pelajari di tempat kursus selama ini ialah bahasa Inggris. Sementara ibu angkat saya tak bisa berbahasa Inggris. Namun, ketika kami berkomunikasi tidak susah sama sekal. Kami tetap berbicara banyak hal dan seperti saling mengerti apa yang sedang kami bicarakan. Tak jarang ibu angkat saya menggunakan kamus elektronik di sela-sela pembicaran. Saya merasa sangat bahagia saat itu saya menyadari bahwa bahasa yang paling universal di dunia ini adalah bahasa tubuh. Allah memang menciptakan beragam bahasa di dunia ini. Namun, bahasa tubuhlah yang paling mudah dipahami oleh semua orang. [email pengirim: hendrakasmi@yahoo.co.id]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com


Anda sedang membaca artikel tentang

Teraturnya Kehidupan Orang Jepang

Dengan url

http://acehnewinfo.blogspot.com/2014/01/teraturnya-kehidupan-orang-jepang.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Teraturnya Kehidupan Orang Jepang

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Teraturnya Kehidupan Orang Jepang

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger