Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Jika tak Mau Dievakuasi, Risiko Tanggung Sendiri

Written By Unknown on Senin, 06 April 2015 | 16.24

AFP / ABDULRAHMAN ADBALLAH

Kelompok bersenjata Syiah, Houhti menggelar demonstrasi menentang serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di Taiz, Yaman, Jumat (3/4). 

SERAMBINEWS.COM - Evakuasi warga negara Indonesia (WNI) di Yaman ternyata bersifat imbauan yang sangat keras dari Pemerintah Indonesia.

Itu disampaikan oleh tim evakuasi WNI saat bertemu dengan dekan dan pihak universitas serta Mahasiswa Indonesia di Yaman dalam sebuah pertemuan.

Kasatgas Tim Percepatan Evakuasi WNI di Yaman dari Polri, Komisaris Besar Krishna Murti, mengatakan, meski berupa imbauan keras, tapi apabila ada para pelajar/mahasiswa memutuskan untuk tetap tinggal di Yaman, tim menyampaikan bahwa segala macam konsekuensi yang timbul kiranya menjadi tanggung jawab atas pilihan tersebut.

"Pemerintah RI tetap akan memberikan perhatian kepada semua warganya, baik yang bersedia dievakuasi maupun yang memilih tinggal di Yaman," kata Krishna ketika dihubungi wartawan, Senin (6/4/2015).

Sementara itu, ucap Krishna, dalam pertemuan itu pimpinan lembaga-lembaga pendidikan di Yaman yang ditemui tim mengapresiasi upaya pemerintah RI terhadap para mahasiswa tersebut. Bahkan, kata Krishna, pimpinan lembaga pendidikan di Yaman memberikan dukungan terhadap pemerintah RI atas upaya evakuasi ini.

"Terkait dengan keberlangsungan belajar para pelajar/mahasiswa, para pimpinan tersebut juga berjanji untuk memberikan pengaturan khusus mengingat kondisi yang sedang berkembang," ucap Krishna.


16.24 | 0 komentar | Read More

Pembalap Liar Mulai Beringas

* Dua Polisi Diduga Dikeroyok

BANDA ACEH - Balapan liar (bali) yang berlangsung setiap malam Minggu di sepanjang Jalan Mr Muhammad Hasan, Gampong Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, tidak lagi sebatas mengganggu kenyamanan warga setempat dan pengguna jalan yang melintasi di kawasan tersebut. Tapi, aksi para riders jalanan yang mengendarai sepeda motornya secara ugal-ugalan itu juga mulai beringas.

Diduga, dua dari empat anggota polisi yang ingin menertibkan aksi bali puluhan remaja dan pemuda pada Minggu (5/4) dini hari itu disekap dan dikeroyok oleh para riders.

Selain infonya diperoleh dari sumber-sumber kepolisian, aksi bali yang berlangsung di sepanjang ruas jalan itu juga sempat terpantau langsung oleh Serambi sekitar pukul 01.15 WIB. Tapi saat itu belum terjadi kasus penyekapan dan pengeroyokan.

Aksi penyekapan yang dilakukan oleh puluhan pembalap liar terhadap dua anggota polisi yang disebut-sebut dari Polda Aceh itu terjadi justru sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.

Awalnya, menurut sumber Serambi, sekitar empat anggota polisi dari Polda Aceh yang mengenakan pakaian preman dan menaiki Toyota Avanza hitam melintasi jalur yang kerap dijadikan sebagai ajang bali tersebut. Melihat kondisi jalan yang padat oleh warga yang menonton di sepanjang sisi jalan itu, ditambah suara bising knalpot yang sengaja dibuat blong, lalu keempat anggota polisi itu pun berhenti.

Maksud anggota polisi itu berhenti, disebut-sebut karena ingin memindahkan sebuah palang yang merintangi jalan tersebut agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya yang ingin lewat.


16.24 | 0 komentar | Read More

Din Minimi Tolak Bertemu Tim DPRA

* Tetap Desak Seluruh Butir MoU Direalisasi

IDI - Rencana Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh untuk bertemu dengan kelompok-kelompok eks GAM yang masih memanggul senjata, ditolak oleh Nurdin bin Ismail alias Din Minimi.

Pria yang memimpin salah satu kelompok bersenjata tersebut malah mendesak para pemimpin di Aceh, termasuk para anggota DPRA/DPRK dan DPR RI, untuk terlebih dulu merealisasikan semua klausul yang tertuang di dalam MoU Helsinki maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).

"Setelah semua itu diselesaikan, baru saya mau bertemu dengan mereka," ungkap Nurdin, kepada Serambi melalui sambungan telepon, Minggu (5/4) pukul (16/4) WIB.

Dalam perbincangan selama sepuluh menit itu, pria yang populer dengan sebutan Din Minimi ini menyatakan, para pemimpin mulai dari Gubernur/Wakil Gubernur Aceh, hingga bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota, serta para anggota legislatif, dipilih oleh rakyat Aceh dengan tujuan dapat merealisasikan semua perjanjian MoU Helsiki yang tertuang dalam UUPA.

"Setelah itu semua selesai, baru bertemu dengan kami. Karena apabila mereka sudah ketemu dengan kami, maka masyarakat kecil tidak lagi mendapat perhatian," ujarnya.

Tuntutan itu terus diulang setiap kali Din Minimi dimintai tanggapannya terhadap keinginan para anggota DPR Aceh untuk mendengar langsung tuntutan dan keinginan kelompok ini.


16.24 | 0 komentar | Read More

Banjir Bandang Terjang Chile, 25 Orang Tewas

SERAMBINEWS.COM - Banjir bandang menerjang wilayah utara Chile, pekan lalu telah menewaskan sedikitnya 25 orang. Menurut badan penanggulangan bencana Chile, banjir juga mengakibatkan 125 orang hilang, dan lebih dari 30 ribu orang telah terkena dampak banjir. Saat ini terdapat tiga ribu orang meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di tempat penampungan darurat.

Presiden Chile, Michelle Bachelet di akhir pekan kemarin, terbang mengunjungi wilayah Atacama, wilayah yang paling parah terkena dampak banjir. Selain wilayah itu, Tarapaca, Antofagasta dan Coquimbo, juga terkena dampak banjir paling parah.

Dalam upaya untuk membendung penyebaran penyakit, pemerintah telah mengirimkan persediaan serum anti-tetanus, rabies, hepatitis A dan flu ke daerah-daerah yang terkena dampak banjir.

Pemerintah Chile juga berusaha untuk memulihkan pasokan air bersih dan listrik, namun diprediksi proses pemulihan akan berlangsung lama. (CNN)


16.24 | 0 komentar | Read More

Mahar Kemahalan, Pria Ini Dor Mantan Tunangan dan 9 Saudaranya

SERAMBINEWS.COM - Seorang pria di Pakistan barat laut menembak mati mantan tunangan dan sembilan anggota keluarga perempuan itu, enam bulan setelah membunuh orang tua dan dua saudaranya sendiri karena menolak untuk membayar mahar buatnya.

Tersangka berusia 25 tahun itu, yang menurut polisi bernama Mir Ahmad Shah, kabur setelah melakukan serangan saat fajar dengan menggunakan senapan serbu AK-47 di distrik Charsadda, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa.

"Dia menyerbu rumah dan menewaskan semua 10 anggota keluarga itu saat mereka tidur," kata kepala polisi distrik Shafiullah Khan. Polisi it menambahkan, dua orang anak dan empat perempuan termasuk di antara para korban tewas.

Khan mengatakan, Shah sudah dicari sebagai buron terkait pembunuhan orang tua dan dua saudaranya tua tahun lalu. Keluarganya menolak untuk menerima permintaan ayah tunangannya saat itu berupa sebuah rumah tinggal sebagai mahar.

Gulzar Khan, seorang pejabat polisi yang lain, mengatakan bahwa setelah membunuh anggota keluarganya sendiri, Shah menjadi marah terhadap calon mertua karena membuat permintaan mahar yang besar itu. Shah merupakan sepupu dari mantan tunangannya, kata Abdul Rashid, seorang perwira polisi senior yang lain.

Polisi mengatakan, mereka telah melakukan pencarian ekstensif, menyerbu tiga tempat yang diduga sebagai lokasi persembunyian Shah dan mengetatkan keamanan di sejumlah titik masuk ke wilayah suku tetangga di mana pria itu mungkin akan mencoba untuk mencari perlindungan.

Pernikahan di Pakistan biasanya diatur, dan sering terjadi di antara sepupu. Keluarga pengantin perempuan kadang-kadang menuntut mahar yang besar sebagai bentuk jaminan jika pernikahan berakhir dengan perceraian.

Di wilayah itu mahar biasanya dibayar oleh pengantin pria atau keluarganya untuk pengantin perempuan pada saat pernikahan. Bentuknya dapat berwujud uang atau hadiah.


16.24 | 0 komentar | Read More

“Kasus Penembakan tak Ganggu Investasi”

Written By Unknown on Minggu, 05 April 2015 | 16.24

GUBERNUR Aceh, Zaini Abdullah mengatakan, meski terjadi sejumlah kasus di Aceh dalam beberapa waktu terakhir, termasuk kasus penculikan dan pembunuhan dua personel TNI di Nisam Antara, Aceh Utara, namun belum sampai mengganggu sektor investasi.

"Aceh tetap kondusif. Saya kira sejauh ini situasinya cukup terkendali dan tak mengganggu investasi," kata Gubernur Aceh kepada wartawan di sela-sela menghadiri kegiatan dies natalis ke-1 UTU Meulaboh, Aceh Barat, Sabtu (4/4).

Menurut Doto Zaini, kasus penembakan di Nisam Antara yang menyebabkan meninggalnya dua anggota Kodim Aceh Utara merupakan kasus kriminal murni. Pelakunya masih terus diburu oleh kepolisian dibantu TNI. Gubernur berharap pelaku penculikan dan penembakan yang terjadi di kawasan Aceh Utara dapat segera diungkap oleh kepolisian sehingga ke depan tidak lagi terulang.

Gubernur menambahkan, penembakan dua anggota TNI di Aceh Utara, menurut keterangan yang diperolehnya karena ada kelompok yang merasa terusik dengan operasi pemberantasan narkoba oleh TNI. "Kita berharap kasus di Aceh Utara dan lainnya bisa segera diungkap dan diselesaikan," tandas Zaini Abdullah.(riz)


16.24 | 0 komentar | Read More

Tim DPRA akan Temui Din Minimi

* Termasuk Gambit dan Lainnya

MEULABOH - Keberadaan sejumlah kelompok bersenjata di Aceh mendapat perhatian serius Komisi I DPRA dengan cara mengagendakan pertemuan dengan pemimpin kelompok tersebut, seperti Din Minimi, Gambit, dan lainnya. Targetnya, menurut Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh untuk sama-sama membangun dan memajukan Aceh.

Informasi tentang adanya agenda bertemu dengan kelompok bersenjata tersebut disampaikan Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh kepada Serambi di sela-sela kegiatan dies natalis ke-1 Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, Sabtu (4/4). Yang diagendakan untuk ditemui antara lain Nurdin atau yang lebih dikenal Din Minimi, Gambit, dan kelompok lain di Aceh yang selama ini masih memegang senjata api.

Langkah tersebut, menurut Abdullah Saleh dilakukan agar ke depan semua pihak bisa duduk bersama untuk mencarikan solusi terbaik demi pembangunan dan kemajuan Aceh.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, menurut Abdullah Saleh, Komisi I DPRA sudah mulai melakukan lobi dan langkah-langkah yang akan dilakukan. "Kami targetkan pertengahan April ini rencana itu bisa terlaksana. Kami dari Komisi I akan menemui Din Minimi, Gambit, dan kelompok lain di Aceh," kata Abdulah Saleh.

Menurutnya, pertemuan Tim Komisi I DPRA dengan kelompok Din Minimi, Gambit, dan lainnya dalam rangka mencari masukan dari kelompok tesebut sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan dan beda pendapat. Masukan dari kelompok yang masih memiliki senjata api itu sangat penting bagi Pemerintah Aceh termasuk internal kombatan sehingga ke depan berbagai persoalan bisa diselesaikan.

DPRA berharap ke depan di Aceh tidak ada lagi kasus penembakan, penculikan, dan kasus-kasus lain sehingga Aceh semakin tenteram pascakonflik. Artinya, dengan duduk bersama dan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk memajukan Aceh. "Ya, kami sangat berharap pertemuan dengan kelompok Din Minimi, Gambit, dan lainnya bisa segera terlaksana," demikian Abdullah Saleh.


16.24 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger